Memuat pengetahuan…
Menyiapkan kanal dan karya untuk Anda.
Policy brief ini mengusulkan “SATU JATIM INOVASI” sebagai ekosistem kolaborasi pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat untuk memperluas dampak inovasi daerah. Usulan ini merespons inovasi yang masih berkembang secara sektoral, belum optimalnya pemanfaatan hasil riset, serta terbatasnya keterhubungan antara kebutuhan pembangunan, potensi usaha, dan aspirasi masyarakat. Melalui pendekatan Quadruple Helix, kebijakan diarahkan pada pembentukan forum kolaborasi, penyusunan peta jalan dan prioritas inovasi, pengembangan dashboard digital terintegrasi, serta sistem insentif, hilirisasi, dan replikasi. Integrasi tersebut diharapkan meningkatkan kualitas pelayanan publik, nilai tambah potensi daerah, dan daya saing Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara.
Jawa Timur memiliki modal ekonomi, sumber daya manusia, dan kapasitas inovasi yang kuat untuk mendukung pembangunan daerah. Namun, berbagai inovasi pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat belum sepenuhnya terhubung dalam kerja sama yang terstruktur dan berkelanjutan. Kondisi ini membatasi pertukaran pengetahuan, pemanfaatan hasil riset, hilirisasi, serta penyebarluasan dan replikasi praktik baik lintas sektor maupun wilayah.
Berdasarkan Gap Analysis, Fishbone Analysis, Collaborative Governance, dan perbandingan alternatif kebijakan, policy brief ini merekomendasikan “SATU JATIM INOVASI” dengan pendekatan Quadruple Helix. Pemerintah berperan sebagai pengarah, fasilitator, dan penghubung; akademisi menyediakan riset serta pengetahuan; dunia usaha mendukung pengembangan, penerapan, dan hilirisasi; sedangkan masyarakat menjadi sumber kebutuhan, gagasan, partisipasi, serta umpan balik. Kolaborasi tersebut dirancang untuk menghubungkan seluruh proses inovasi, mulai dari identifikasi masalah hingga pengukuran dampak.
Implementasi kebijakan diusulkan melalui empat instrumen utama, yaitu Forum Kolaborasi Inovasi Daerah, Roadmap dan Prioritas Inovasi Daerah, Dashboard Digital Kolaborasi dan Inovasi Terintegrasi, serta Sistem Insentif, Hilirisasi, dan Replikasi Inovasi. Keempat instrumen ini diharapkan menyelaraskan agenda riset dengan kebutuhan pembangunan, memudahkan berbagi data dan sumber daya, serta mempercepat penerapan solusi yang bermanfaat bagi masyarakat. Hasil akhirnya adalah inovasi daerah yang lebih terintegrasi, berbasis data, dan berdampak pada pelayanan publik, konektivitas ekonomi, hilirisasi potensi daerah, serta transformasi digital.
Makhfudz, S.H., M.Si. (2026). SATU JATIM INOVASI: Ekosistem Kolaborasi untuk Mengakselerasi Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara. SMART WIJEN (WIJEN Science), Versi 4. /karya/SWJ-PILOT-SCIENCE-080
Masuk ke akun Anda untuk mencatat penggunaan materi ini dalam pembelajaran atau pekerjaan Anda.
Masuk ke akun Anda untuk mencatat penerapan pengetahuan dalam organisasi Anda.
Masuk ke akun Anda untuk mengirimkan ulasan & feedback kepada Widyaiswara penyusun.