Memuat pengetahuan…
Menyiapkan kanal dan karya untuk Anda.
Policy brief ini menawarkan inovasi JATIM CONNECT sebagai kerangka integrasi ekosistem logistik untuk memperkuat peran Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara yang menghubungkan Jawa, Ibu Kota Nusantara (IKN), dan Indonesia Timur. Meskipun memiliki infrastruktur transportasi dan basis industri yang kuat, Jawa Timur masih menghadapi tantangan konektivitas multimoda, efisiensi distribusi, pemerataan akses wilayah, serta fragmentasi data dan tata kelola. Melalui tiga pilar utama, yaitu CONNECT PHYSICAL, CONNECT DATA, dan CONNECT GOVERNANCE, JATIM CONNECT diarahkan untuk mengoptimalkan infrastruktur yang sudah tersedia, mengintegrasikan informasi logistik, serta memperkuat koordinasi lintas sektor guna menurunkan biaya distribusi, meningkatkan keandalan rantai pasok, dan memperluas daya saing ekonomi daerah.
Jawa Timur memiliki posisi strategis sebagai pusat industri, perdagangan, dan distribusi nasional. Pada 2025, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur mencapai Rp3.403,17 triliun dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,33%, sementara industri pengolahan berkontribusi 31,32%. Namun, ketersediaan pelabuhan, bandara, jalan tol, kereta api, dan kawasan industri belum sepenuhnya membentuk sistem logistik yang terintegrasi. Tantangan utama mencakup keterhubungan antarmoda, akses distribusi dari dan menuju sentra produksi (first–last mile), ketimpangan konektivitas antarwilayah, serta keterbatasan interoperabilitas data. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya perubahan pendekatan dari pembangunan infrastruktur secara terpisah menuju pengelolaan ekosistem logistik yang terhubung secara menyeluruh.
JATIM CONNECT dikembangkan melalui tiga pilar inovasi. CONNECT PHYSICAL berfokus pada penguatan koridor transportasi multimoda, pusat logistik daratan, rantai dingin, dan akses distribusi. CONNECT DATA mengintegrasikan informasi arus komoditas, kapasitas simpul transportasi, dan indikator kinerja melalui JATIM Logistics Data Platform yang interoperabel dengan National Logistics Ecosystem (NLE). Sementara itu, CONNECT GOVERNANCE memperkuat koordinasi pemerintah, operator logistik, dunia usaha, dan perguruan tinggi melalui pembentukan East Java Logistics Council. Ketiga pilar tersebut dirancang untuk mempercepat distribusi, meningkatkan transparansi informasi, dan memperkuat pengambilan keputusan berbasis data.
Implementasi JATIM CONNECT direncanakan secara bertahap, dimulai dengan pemetaan arus komoditas, penyusunan indikator dasar kinerja, dan pembentukan tata kelola pada 2026–2027. Tahap berikutnya pada 2027–2029 mencakup pelaksanaan proyek percontohan koridor logistik, pengembangan pusat distribusi, dan integrasi platform data. Mulai 2030, program diarahkan pada perluasan jaringan serta evaluasi dampak ekonomi. Melalui penguatan konektivitas fisik, digital, dan kelembagaan, JATIM CONNECT diharapkan dapat meningkatkan efisiensi logistik, memperkuat keterhubungan sentra produksi dengan pasar, serta mengembangkan Jawa Timur menjadi pusat logistik dan perdagangan yang menghubungkan Jawa, IKN, dan Indonesia Timur.
Dr. Syamsul Arifin, M.Pd. (2026). JATIM CONNECT: Integrated Logistics Ecosystem untuk Mewujudkan Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara. SMART WIJEN (WIJEN Science), Versi 5. /karya/SWJ-PILOT-SCIENCE-059
Masuk ke akun Anda untuk mencatat penggunaan materi ini dalam pembelajaran atau pekerjaan Anda.
Masuk ke akun Anda untuk mencatat penerapan pengetahuan dalam organisasi Anda.
Masuk ke akun Anda untuk mengirimkan ulasan & feedback kepada Widyaiswara penyusun.